......... Selamat Tahun Baru 2013, Semoga Kita Semakin Sukses .........

Selasa, 05 Februari 2013

Ada Thabrani di Gracilaria, ada Hamzah di Cottonii

Mh63


Ada Thabrani di Gracilaria, ada Hamzah di Cottonii


Brebes, malam Minggu, jam 22.00. Para petani rumput laut di desa Randu Sanga masih bersila di halaman rumah tokoh masyarakat setempat.  Laki-laki dan perempuan. Tua dan muda. Resminya mereka menghadiri acara rutin keagamaan yang disebut “Pengajian Padang Bulan”. Saya pikir akan ada pemilik merk “Padang Bulan” Emha Ainun Nadjib di situ. Ternyata nama padang bulan sudah begitu generiknya.

Inilah pengajian yang tema pokok bahasannya adalah rumput laut. Bukan ditinjau dari segi agama, tapi bagaimana rumput laut menyejahterakan seluruh masyarakat desa Randu Sanga yang dulunya dikenal sebagai desa nelayan yang miskin.

Ada dua jenis rumput laut. Yang di Brebes ini, sebagaimana juga yang ada di daerah-daerah sebelahnya seperti Cirebon dan Indramayu, rumput lautnya disebut gracilaria. Bentuknya lebih kecil seperti rumput Jepang dan kegunaan utamanya untuk agar-agar. Pasarnya sangat luas. Berapa pun akan terserap.

Dulu, para petani tambak di Randu Sanga hanya mengandalkan hidupnya dari memelihara bandeng dan udang. Panennya hanya enam bulan sekali. Kalau penyakit ikan lagi datang, sangat menderita. Tidak bisa panen.

Untung ada orang bernama Thabrani di Randu Sanga. Pendidikannya S2 dan kini lagi mengejar gelar doktor. Dia mendapat ilmu bahwa di tambak tersebut bisa ditumpang sari dengan rumput laut jenis gracilaria. Dia sendiri, dari warisan orangtuanya, memiliki 15 ha tambak.

Saat itu Thabrani baru terkena musibah. Udangnya terkena penyakit dan panennya gagal total. Mulailah tergerak untuk memikirkan rumput laut. Dia tebar benih rumput laut. Hidup. Berkembang. Seluruh tambaknya penuh dengan rumput laut.

Hasilnya di luar dugaannya: berkat rumput laut itu bandengnya lebih cepat besar dan tidak terkena penyakit. Demikian juga udangnya. Dalam waktu yang sama bandengnya bisa tumbuh dua kali lipat lebih cepat.

Rumput lautnya sendiri bisa dipanen tiap dua bulan. Dijemur. Sampai mencapai tingkat kekeringan 16%. Dijual. Banyak pabrik agar-agar membelinya.
Dengan demikian Thabrani dapat uang tiap dua bulan. Tidak lagi hanya punya uang tiap enam bulan.

Dengan tambak yang sama hasilnya menjadi berlipat.
Dua tahun lamanya Thabrani sendirian. Tetangga-tetangganya tidak ada yang mau mengikuti jejaknya. Padahal Thabrani sudah berusaha merayu mereka. Kebiasaan turun-temurun memang sulit diubah.

Tapi Thabrani tipe seorang pejuang yang gigih. Dia tidak henti-henti mengajak petani lain mengikuti jejaknya. Bahkan, untuk meyakinkan mereka, Thabrani menjamin akan membeli rumput laut yang mereka hasilkan. Jaminan seperti ini yang kelak di tahun 2012 membuat dia dikenal sebagai pengepul rumput laut terbesar.

Setelah ada jaminan itu, barulah satu per satu tetangganya tertarik. Kini, lima tahun kemudian, seluruh tambak di Randu Sanga sudah menjadi tambak three in one: bandeng, udang, dan rumput laut. “Bahkan hasil rumput lautnya lebih besar dari hasil bandeng ditambah udang sekalipun,” ujar Thabrani.

Thabrani melangkah lebih jauh. Tiga tahun lalu dia mendirikan sekolah menengah kejuruan rumput laut. Dia ingin penduduk desanya menanam rumput laut dengan ilmu pengetahuan.
Malam Minggu kemarin itu, saya diajak Thabrani untuk menghadiri pengajian itu. Tapi, sebenarnya sayalah yang harus belajar di situ. Apalagi Thabrani tidak keberatan kalau semangatnya itu ditularkan juga ke petani-petani tambak di seluruh pantai utara Jawa. Di pusat-pusat nelayan yang miskin.

Thabrani senang sekali melihat warganya kian sejahtera. Dia pun membuat gerobak pengangkut rumput laut yang bisa dijalankan di sela-sela tambak. Malam itu dia berbagi gerobak ke banyak petambak di situ –gerobak yang dia beri nama DI 99. Bahkan saking senangnya, malam itu Thabrani, dalam fungsinya sebagai pengumpul rumput laut, mengumumkan kepada warganya akan meningkatkan harga rumput laut dari 4.000 per kg menjadi 4.500 per kg.

Tentu itulah pengajian yang paling menyenangkan warga Randu Sanga. Ilmu-ilmu rumput laut dibeberkan malam itu. Apalagi ada bonus kenaikan harga. Ada Ki Dalang Enthus Susmono yang datang bersama saya. Di akhir acara Enthus memberikan tausiah agama. Enthus ternyata sangat piawai tidak hanya memainkan wayang tapi juga sebagai pendakwah.

Kabar baik rupanya tidak hanya untuk petani rumput laut jenis gracilaria. Petani rumput laut jenis cottonii pun baiknya juga membaca kabar ini: anak muda dari Lawang, Jawa Timur, Hamzah, sudah berhasil mendirikan pabrik pengolah rumput laut cottonii menjadi karagenan. Yakni tepung rumput laut yang kegunaannya tidak untuk agar-agar tapi untuk kosmetik, bahan odol, kapsul obat, kue, bakso, dan seterusnya.

Kue-kue Jepang yang begitu lembut dan tidak bisa mengeras itu karena menggunakan tepung karagenan. Odol yang menggunakan karagenan tidak akan bisa kering meskipun tutupnya terbuka. Bakso yang menggunakan tepung karagenan memiliki kekenyalan yang sempurna.

Selama ini Indonesia hanya bisa mengekspor rumput laut jenis cottonii ini. Lalu Indonesia mengimpor karagenan besar-besaran. Kenyataan inilah yang menggundahgulanakan pikiran Hamzah.
Sebagai sarjana teknik mesin yang tidak henti-hentinya berpikir, Hamzah bertekad untuk menciptakan mesin yang bisa mengubah rumput laut menjadi karagenan. Pabrik pembuat karagenan ini menggunakan banyak prinsip: kimia, fisika, mekanik, hidraulik, dan elektronik.

Setahun yang lalu, ketika saya menemui Hamzah, dia belum yakin apakah penemuannya akan berhasil. Tapi saya terus mendorongnya untuk tidak menyerah. Dia minta waktu satu tahun untuk membuktikannya. Sebenarnya, seperti biasa, saya tidak sabar.

Tapi saya memaklumi tingkat kesulitannya. Apalagi ini mesin yang terkait dengan makanan. Harus memenuhi kriteria dan standar yang lebih tinggi. Dan ini mesin pertama yang dilahirkan di Indonesia oleh anak muda Indonesia.

Saya terus berkomunikasi dengan Hamzah. Saya terus memonitor perkembangannya. Akhirnya saya dapat kabar baik. Minggu lalu uji coba pabriknya di Pasuruan dan berhasil. Benar-benar bisa menghasilkan karagenan. Dengan mutu yang tidak kalah dengan karagenan impor. Bahkan sedikit lebih baik .

Pabriknya memang kecil. Hanya bisa mengolah rumput laut jenis cottonii sebanyak 5 ton sehari. Tapi 5 ton adalah jumlah yang sudah bisa dipakai menampung hasil rumput laut satu kabupaten. Misalnya kabupaten Bulukumba di Sulsel.

Rumput laut jenis cottonii, sebagaimana rumput laut di Brebes, memang pilihan yang tepat untuk meningkatkan pendapatan para nelayan yang umumnya miskin. Lebih-lebih kalau lagi musim tertentu, ketika mereka tidak bisa melaut.
Bank BRI kini telah membina nelayan rumput laut cottonii di Bulukumba, tapi ya baru sebatas untuk dijual ke pedagang.

Kini, dengan penemuan teknologi oleh putra bangsa kita yang bernama Hamzah itu, rumput laut kian mendapat muara di hilirnya. Pembinaan untuk nelayan rumput laut kini bisa lebih dimassalkan, termasuk oleh BUMN.

Inilah senjata untuk mengentas kemiskinan di wilayah nelayan. Di samping mendapat hasil dari ikan, dalam waktu yang bersamaan nelayan juga mendapat uang dari rumput laut.
Sebagaimana yang saya lihat di Bulukumba, para nelayan di sana mulai bersemangat menanam rumput laut cottonii. Memang lebih rumit dibanding rumput laut jenis gracilaria. Tapi untuk laut-laut tertentu memang hanya cocok untuk rumput laut tertentu.

“Di sini, kalau seorang nelayan bisa menanam rumput laut 2.000 bentangan, sudah cukup untuk hidup dan menyekolahkan anak,” ujar seorang nelayan di Bulukumba.
Begitu banyak jalan untuk meningkatkan kehidupan. Pilihan-pilihan mulai banyak tersedia di depan kita.

Saatnya kini kita harus terus kerja, kerja, kerja!

(*) Menteri BUMN
COPYRIGHT © 2013

Kisah Peternak Sapi AS yang Merana Akibat RI Hentikan Impor Daging Foto : Demo tolak daging sapi AS di Taiwan (resizer)

Foto : Demo tolak daging sapi AS di Taiwan (resizer)
Washington – Tahun lalu, Indonesia menghentikan impor daging dari AS setelah merebak kasus sapi gila 
di California. Kondisi ini membuat penjualan daging di AS ke Indonesia langsung terjun bebas.


Kisah Peternak Sapi AS yang Merana Akibat RI Hentikan Impor Daging



Untuk memperjuangkan kepentingan para peternak sapi di AS seperti di California dan Texas, pemerintah AS melawan tindakan pemerintah Indonesia ini. Cara terakhir yang dilakukan sebelum menggugat ke badan perdagangan dunia (WTO), pemerintahan Obama tahun lalu pernah menekan pemerintah Indonesia untuk mencoba membuka pasar daging impornya. Apalagi AS melihat, 240 juta penduduk Indonesia merupakan pasar yang menggiurkan untuk ekspor daging.

“Tidak ada dasar ilmiah untuk menghindari daging AS,” ujar John Haris, seorang pemilik peternakan bernama Harrus Ranch Beef Co. di California seperti dikutip dari star-telegram, Senin (4/2/2013).
Para peternak di AS memang kesal dengan kebijakan pemerintah Indonesia ini, dan mereka menyebutkan tindakan Indonesia sebagai ‘knee-jerk political action.’ Karena para peternak di AS ini memang cukup bergantung kepada pasar ekspor.

Industri daging di AS sangat penting untuk perekonomian negara tersebut, karena industri ini berhasil menciptakan 1,4 juta lapangan pekerjaan. Di 2011, industri peternakan menyumbang sekitar US$ 44 miliar atau sekitar Rp 400 triliun dalam perekonomian AS.

Kedutaan Besar Indonesia di AS tidak mau berdiskusi terkait hal ini, namun berjanji akan merespons protes AS. “Pemerintah Indonesia tidak bertujuan melarang masuknya barang impor, namun untuk meyakinkan bahwa semua barang yang diimpor aman untuk dikonsumsi dan aman bagi lingkungan,” demikian bunyi pernyataan pihak Indonesia.

Meskipun Indonesia dilihat sebagai negara dengan perekonomian terbesar, namun jumlah ekspor daging AS ke Idnonesia cuma 0,6% atau senilai US$ 17 juta.

Pemerintah AS dikatakan juga kesal dengan sikap pemerintah Indonesia yang memperketat aturan impor produk agrikultur seperti buah sayur, jus, dan bunga. Selama ini, Indonesia masuk 5 besar negara tujuan ekspor apel asal AS, dan juga buah ceri dan pir. Sejak adanya pengetatan syarat impor ini, nilai ekspor apel Washington turun 67% sejak November 2012.

Kembali ke penghentian impor daging AS oleh Indonesia, sebuah peternakan di Minnesota yaitu Cargill, telah merumahkan 2.000 pegawainya karena penurunan permintaan.
Sebuah peternakan di California yaitu Monterey County juga menurun bisnisnya dan mengurangi jumlah pekerjanya.

“Semakin sulit bagi para peternak dan petani untuk bertahan di bisnis ini karena tingginya biaya dan juga harga tanah di negara ini, terutama di California. Karena itu jumlah pekerja kami semakin sedikit dan produksi akhirnya menurun,: ujar pemilik Monterey yaitu Kester.

Di 2011 lalu, angka ekspor daging AS menyentuh US$ 5,4 miliar dan awalnya ditargetkan bisa naik di 2012. Namun ternyata angka ekspor ke Indonesia turun 91% dari Januari hingga November 2012.
Asosiasi Peternak Nasional AS mengatakan hanya ada dua negara, yaitu Indonesia dan Thailand yang menghentikan impor daging dari AS karena masalah sapi gila di California.

Indonesia memang memperketat kuota dan persyaratan bagi para eksportir AS yang ingin memasukkan barangnya. Para peternak AS saat ini menghadapi risiko dan ketidakpastian penjualan daging ke Indonesia.

Selain soal pengetatan kuota, para eksportir daging AS juga menghadapi persoalan sulit untuk menjual daging ke Indonesia yang merupakan negara dengan mayoritas penduduk muslim.
Indonesia memberi syarat agar daging yang diimpor disembelih sesuai dengan cara Islam. Ini membuat eksportir daging AS harus menyesuaikan diri

Menurut pejabat pemerintahan AS, kebijakan penghentian impor daging dan produk agrikultur asal AS oleh pemerintah Indonesia telah menghancurkan peraturan perdagangan global. Jika kedua negara ini belum menemukan kata sepakat, pemerintah AS mengancam untuk menuntut Indonesia ke markas WTOdi Jenewa pada Maret 2013 nanti.

Sumber : http://finance.detik.com/read/2013/02/04/083349/2160105/4/kisah-peternak-sapi-as-yang-merana-akibat-ri-hentikan-impor-daging?

Dahlan Iskan : Pernah ditipu itu penting

PERNAH DITIPU ITU PENTING

Tiga minggu yang lalu, saya ke Desa Sumowono, Kecamatan Sumowono, Kabupaten Semarang, Provinsi Jawa Tengah. Saya menginap di sana dan melihat penduduk yang memelihara kambing. Modal pemeliharannya berasal dari PT Jasa Raharja, salah satu perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN).

Belum setahun, ada peternak yang awalnya punya dua ekor kambing berkembang menjadi 13 ekor. Ada juga peternak awalnya punya tiga ekor kambing berkembang menjadi 16 ekor.

Yang saya lihat, rumahnya bagus-bagus, bajunya bagus-bagus dan istrinya cantik-cantik. Saya bangga karena beberapa orang yang mendapatkan modal dari BUMN di Desa Sumowono itu menarik perhatian tetanga-tetangganya yang hidupnya lebih miskin.

Selepas salat Subuh, saya berdialog dengan jemaah. Saya bertanya karena dari beberapa penduduk desa tergolong miskin. Termasuk Pak Imam yang pekerjaannya mencari rumput dan pengembala kambing tapi bukan miliknya.

Saya tanya “Mengapa tidak ikut minta modal ke BUMN? Mengapa tetangga-tetangganya mau mendapatkan modal?”

Pak Imam yang hanya tamatan Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan tidak bisa lanjut ke pendidikan lebih tinggi memberikan jawaban sangat menarik.

“Kami takut waktu Jasa Raharja ke desa ini menawarkan modal beternak kambing. Takut karena tidak bisa mengembalikan,” jawab Pak Imam.

Dari jawaban Pak Imam ini, saya menarik kesimpulan bahwa orang yang tidak pernah berusaha dan orang miskin takut punya utang. Saya kira ini sikap yang sangat baik karena punya utang itu tidak baik. Tidak punya utang tapi tidak bisa makan dan punya utang tapi bisa makan, baik mana? Tentu punya utang tapi bisa makan lebih baik karena masih bisa berusaha mengembalikan.

Karena ternaknya terus bertambah dan hasilnya begitu banyak, akhirnya ada 40 orang di Desa Sumowono yang sangat miskin timbul keberaniannya untuk mendapatkan modal. Nah, ini yang saya puji sebab ada yang memulai dulu. Seandainya tidak ada yang berani mau menerima modal dari BUMN dan sungguh-sungguh beternak dan berhasil, mungkin orang miskin di sekitarnya tidak mau menerima bantuan. Dan itu saya perintahkan agar permintaan warga segera diproses.

Dari sinilah muncul ide. Ternyata menjadi pengusaha itu tidak hanya butuh modal, tidak hanya fasilitas, tetapi juga harus menghilangkan rasa takut. Jadi penyebab kemiskinan antara lain karena rasa takut. Takut untuk maju. Makanya perlu dilatih bermental berani dan bertanggung jawab. Memang sikap ini langka tapi harus dibisakan.

Saya merinding ketika melihat peserta pelatihan ESQ Pimpinan Ary Ginandjar yang jumlahnya 5 ribu pengusaha kecil binaan BUMN di JIE EXPO, Kamis lalu. Kenapa merinding? Karena pengusaha kecil yang jumlahnya banyak tidak akan kalah dengan pengusaha besar.

Indonesia terhindar dari keruntuhan ekonomi 10 tahun yang lalu bukan oleh konglomerat, tapi justru para pengusaha kecil. Meskipun kecil tapi kalau disatukan akan menjadi kekuatan ekonomi yang luar biasa bagi Indonesia.

Saya melakukan survei kecil-kecilan. Saya ingin tahu persoalan mereka dan bertanya kepada peserta pelatihan. Apakah lebaran tahun depan tidak bisa membeli baju baru untuk diri dan anaknya? Apakah besok pagi masih memikirkan bisa makan atau tidak?

Dua pertanyaan itu ternyata dijawab tidak ada dan tak ada yang mengacungkan tangan. Ini berarti, mereka yang mengikuti pelatihan sudah tidak mengalami persoalan persediaan makanan. Orang-orang yang seperti itu dikategorikan tidak lagi miskin.

Pertanyaan ini sengaja saya ajukan karena waktu saya masih anak-anak dan remaja mengalami masalah yang cukup serius. Ayah saya yang hanya seorang buruh tani tidak bisa menjamin ada makanan yang bisa dicicipi untuk esok harinya, sore harinya karena hidup miskin.

Memang kalau ditanya, masih menderita gak? Pasti jawabnya menderita. Sudah sejahtera atau belum? Jawabnya pasti seragam, belum. Karena kebiasaan orang seperti itu.

Setelah saya tahu peserta pelatihan tidak lagi memikirkan urusan makan, berarti tiap hari yang dipikirkan adalah bagaimana maju lagi, bagaimana maju lagi, dan bagaimana maju lagi. Tidak lagi memikirkan, besok pagi bisa makan atau tidak.

Perasaan seperti ini, “Saya Tidak Lagi Miskin” harus ditanamkan dalam hati. Perasaan “Saya Ini Miskin Sekali, Saya Ini Menderita, Saya Ini Kok Tidak Sejahtera” harus dibuang karena ini adalah penyakit dan perasaan yang tidak bersyukur kepada Tuhan.

Beda dengan orang miskin yang tiap hari otaknya penuh kegelisahan urusan besok pagi masih bisa makan atau tidak. Akibatnya, pikiran kalut, berpikirnya jangka pendek dan konsentrasi untuk maju itu hilang.

Menjadi pengusaha besar jangan sepelekan hal yang kecil. Ingin tahu penyakitnya pengusaha kecil itu seperti apa? Pengusaha kecil itu penyakitnya ingin menjadi pengusaha besar dengan cepat. Tolong diingat, barang siapa yang ingin menjadi pengusaha besar lebih cepat maka Anda sedang mengidap penyakit.

Apa tidak boleh ingin lebih cepat menjadi pengusaha besar? Boleh. Tapi harus bisa mengukur diri. Pengusaha yang baik adalah yang merangkak. Merangkaknya bisa pelan-pelan, agak cepat, cepat dan lebih cepat lagi. Tidak boleh merangkak langsung melompat ke lantai 19, nanti jatuh.

Biasanya, kalau sudah berhasil usaha yang satu, ingin usaha yang lain lagi. Sebaiknya pengusaha kecil itu harus sungguh-sungguh menekuni apa yang sedang dikerjakan dulu. Menekuni apa yang sedang dikerjakan, bukan sambil mengerjakan usaha itu sambil mikir mau usaha apalagi.

Bagi yang beragama Islam dan pernah belajar tauhid tentu paham bahwa kalau tidak bertauhid berarti musyrik. Inti dari tauhid adalah mengesakan Tuhan. Tidak menduakan, mentigakan dan seterusnya.

Jadi tauhid pengusaha itu adalah fokus. Tidak gampang tergoda oleh usaha lain yang kelihatannya menarik tapi bisa mencelakakan. Pengusaha yang tidak fokus berarti tidak bertauhid terhadap usahanya. Barang siapa yang tidak bertauhid berarti masuk nerakanya pengusaha. Nerakanya pengusaha adalah bangkrut.

Ada pertanyaan, Pak Dahlan sebelum di pemerintahan kan punya 100 perusahaan? Memang betul. Waktu itu saya punya 100 perusahaan lebih sebelum menjabat Dirut PLN. Tapi sekarang sudah saya lepas. Sudah saya serahkan kepada anak saya mengurusunya.

Berarti Pak Dahlan tidak fokus? Ini beda dengan yang saya sampaikan. Saya mengurus 100 perusahaan lebih setelah berkembang. Tetapi 10 tahun pertama, saya hanya mengurus satu saja. Jadi jangan lihat saya 10 tahun yang lalu, tapi lihat saya 30 tahun yang lalu.

30 tahun yang lalu ketika menjadi pengusaha kecil dan memulai usaha, saya hanya fokus pada satu perusahaan. Baru setelah perusahaan kuat sekali, baru berkembang. Ibaratnya, 10 tahun pertama, atau paling tidak 5 tahun pertama, hanya mengamalkan syariat pengusaha.

Setelah menjadi pengusaha 10 tahun, anggap saja sudah ma’rifat. Tapi jangan cepat-cepat ingin ke tingkat ma’rifat karena bisa menjadi gila. Jalani dulu syariatnya, tekun, fokus, dan sungguh-sungguh.

Menjadi pengusaha bukan berarti kita tidak bisa gagal. Sebab, menjadi pengusaha itu memang sulit. Saya menjadi pengusaha pernah merasakannya. Pernah jatuh dan pernah ditipu. Saya bisa menduga, dari 5 ribu orang pengusaha peserta pelatihan ESQ pasti pernah ditipu.

Yang belum punya pengalaman ditipu sampai hari ini, saya doakan mudah-mudahan cepat ditipu orang. Kenapa? Karena ditipu itu penting. Seorang pengusaha yang belum ditipu belum bisa menjadi pengusaha yang sejati.

Menjadi korban penipuan tentu sakit hati luar biasa karena sudah matia-matian bekerja, anak dan istri terlantar, sampai ada yang mendramatisir berusaha sampai kepala jadi kaki, kaki jadi kepala.

Tetapi, pengusaha sejati yang ditipu, tidak akan menyerah. Bagi yang menyerah karena ditipu berarti dia bukan pengusaha bermental kuat. Sakit hati boleh tapi kalau berkepanjangan itu akan merugikan dirinya sendiri.

Kalau ditipu sekali, kita bangkit, ditipu dua kali, bangkit lagi. Kebangkitan itu membentuk pengusaha jadi tangguh. Tetapi jangan ditipu sampai tiga kali dan jangan balas menipu.

Di Indonesia, masih ada 36 juta rakyat yang terkategori miskin dan miskin sekali. Berpikirnya, besok masih bisa makan atau tidak. Ini adalah ladang ibadah dan amalan bagi orang-orang yang sudah usahanya berjalan meskipun kecil untuk menggerek rakyat yang masih miskin untuk imotivasi menjadi pengusaha.

Kalau saya yang mengajak 36 juta orang yang miskin dan masih miskin sekali itu untuk bangkit mungkin susah. Tapi kalau pengusaha kecil yang mengajak mungkin akan berhasil. Karena mereka bisa membuktikan bisa berusaha dan tetangganya melihat secara nyata keberhasilan yang diraih.

Tetangga yang miskin dan masih miskin sekali ini perlu dimotivasi, diajari, dituntun untuk menjadi pengusaha kecil dan keluar dari kemiskinan. Akhirnya, saya berharap cepat berhenti sebagai mitra BUMN dan menunjukan sebagai pengusaha yang mandiri. Jangan punya perasaaan ingin terus dibina BUMN, punyalah perasaan maksimum tiga tahun, dua tahun atau bahkan satu tahun menjadi mitra. Karena yang antri masih panjang, masih ada 36 juta orang.

Tapi, lebih banyak lagi jumlah orang yang tidak lagi berpikir besok pagi masih bisa makan seperti peserta pelatihan ESQ. Jumlahnya mencapai 136 juta orang dan berpikirnya bagaimana maju, bagaimana maju dan bagaimana maju. Inilah modal bagi Negara kita yang akan membuat Indonesia menjadi maju dan modern 15 tahun ke depan.

Karena ada 136 juta orang yang berpikir ingin maju, ingin maju dan ingin maju maka Indonesia terpaksa maju. Saya mohon maaf menggunakan kata ‘terpaksa’ karena Negara bisa maju berkat rakyatnya berpikir maju. Bukan orang-orang elit, bukan orang-orang yang tiap hari ngomong politik. Insya Allah, 15 tahun ke depan kita akan menjadi saksi bagi kemajuan Indonesia. (*)

Dahlan Iskan
Menteri BUMN
 

Kamis, 31 Januari 2013

Manufacturing Hope 62 Dari Buli, Ria Berdikari Ingin Angkat Harga Diri

Manufacturing Hope 62 Dari Buli, Ria Berdikari Ingin Angkat Harga DiriManufacturing Hope 62 Dari Buli, Ria Berdikari Ingin Angkat Harga Diri
Kamis, 31 Januari 2013
 
TIBA di lokasi ini saya diberi pilihan: naik jip atau sepeda motor trail. Hati ingin memilih trail, tapi otak mengatakan jangan. Udara lagi sangat panasnya. Matahari sangat teriknya.
 
Saya pun menunjuk mobil setengah tua yang rodanya cocok untuk off-road itu. "Tapi, harus saya yang nyetir," ujar wanita muda berjilbab putih dan bercelana jins itu. "Di sini tidak ada tebing yang bisa ditabrak," tambahnya.
 
Saya tahu wanita itu lagi menyindir saya yang suka mengemudikan mobil sendiri dan baru saja menabrakkan mobil listrik Tucuxi ke tebing terjal di Magetan.
 
Hari itu, Senin minggu lalu, saya memang ingin mengelilingi ranch besar milik BUMN yang sudah lama telantar. Yakni, lahan peternakan sapi seluas 6.000 ha milik PT Berdikari United Livestock (Buli), anak perusahaan PT Berdikari (Persero). Lokasinya di Desa Bila, tidak jauh dari Danau Tempe di Kabupaten Sidenreng Rappang (lazim disingkat Sidrap), Sulawesi Selatan.
 
Sudah lama ranch tersebut begitu-begitu saja. Nasibnya tidak jauh berbeda dengan ranch yang ada di Sumba, yang luasnya juga sekitar 6.000 ha. PT Berdikari sudah lama tidak bisa berdiri di atas kakinya sendiri. Bukan saja tidak bisa membantu program pemerintah di bidang peternakan, bahkan justru terlalu bergantung kepada pemerintah. Wajah PT Berdikari adalah wajah yang muram. Karena itu, awal tahun lalu direksinya diganti.
 
Sebagaimana juga di Sumba, sebenarnya ingin sekali saya bermalam di Bila. Tapi, ternyata tidak perlu. PT Buli sudah mulai bergerak dengan konsep yang jelas. Tanda-tanda kehidupan mulai tampak di daerah yang terletak sekitar lima jam naik mobil dari Makassar itu.
 
Wanita berjilbab putih itu dengan tangkas segera naik mobil dan mengendalikan kemudi. Dialah Ir Ria Kusumaningrum, yang tahun lalu diangkat jadi direktur PT Buli. Ria adalah lulusan Fakultas Peternakan IPB tahun 2004.
 
Ria sangat tangkas mengemudi. Saya duduk di sebelahnya. Di kursi belakang duduk Dirut PT Berdikari Librato El Arif, yang hanya bisa tersenyum melihat percakapan tadi. Arif-lah yang mengangkat wanita muda tersebut menjadi direktur PT Buli yang waktu itu dalam keadaan sulit-sulitnya. Arif cukup jeli memilih orang. Dia tidak salah memilih Ria sebagai direktur untuk peternakan besar yang lagi sakit parah itu.
 
Sambil mengemudikan mobil di jalan off-road yang berjungkit-jungkit itu, Ria terus menceritakan apa yang sedang dan masih terus dia lakukan. "Di lahan ini akan kami buat ranch, bisa untuk 50.000 sapi," ujar Ria dengan semangatnya. Ucapan itu kelihatannya mustahil terwujud. Terdengar seperti omong besar. Setahun lalu, ketika saya mulai mengkaji persoalan peternakan ini, tidak pernah ada pemikiran seperti itu.
 
Waktu itu yang sering diteorikan adalah: Lahan 6.000 ha maksimum hanya akan bisa dihuni 6.000 ekor sapi. Angka 50.000 yang disebut Ria jauh dari teori itu.
 
Konsep awal ranch Buli itu memang sama dengan yang ada di Sumba. Sapi dibiarkan hidup liar di padang gembalaan. Murah dan mudah. Tinggal memelihara beberapa kuda dan anjing untuk menggembalakannya. 

Tapi, kenyataannya sangat berbeda. Baik di Sumba maupun di Sidrap, cara seperti itu tidak bisa berkembang. Ada beberapa persoalan teknis. Misalnya soal bagaimana menjaga kualitas sapi. Untuk sapi yang dibiarkan liar, kualitas keunggulannya merosot. Sebab, terjadi perkawinan inses. Sering terjadi anak laki-laki yang sudah besar mengawini ibunya atau saudara kandungnya. Sulit mengawasinya.
 
Yang seperti itu tidak terjadi di luar negeri. Di sana sapi jantan yang tidak unggul langsung dikebiri. Itulah yang tidak mungkin dilakukan di Indonesia. Masih ada pendapat yang mengatakan bahwa pengebirian seperti itu melanggar ajaran agama tertentu.
 
Ria yang setelah lulus menekuni penelitian ternak tropik itu tidak mau meneruskan sistem peternakan liar seperti konsep tersebut. Itu sesuai dengan arahan direksi PT Berdikari dan hasil diskusi dengan para ahli dari Fakultas Peternakan Universitas Hasanuddin Makassar yang aktif membantu Ria di Buli.
 
Cara baru itu pun ditunjukkan kepada saya. Setelah mengunjungi instalasi pengolahan kompos dan makanan ternak, saya dibawa ke pinggir sebuah danau kecil yang ada di tengah-tengah ranch. Di situlah ada sebuah kandang yang terbuka. Yakni, hamparan rumput yang dipagari dengan kayu setinggi 1,5 meter yang dirangkai dengan kawat berduri. Luas kandang itu hanya sekitar 3.000 meter persegi. Tidak ada atapnya. Di dalam kandang itu (di Jawa lebih tepat disebut kombong) terdapat 150 sapi yang hidup mengelompok.
 
Uji coba sistem kombong itu sudah berlangsung empat bulan. Sapi tidak dibiarkan liar lagi meski juga tidak dimasukkan ke kandang. Uji coba tersebut sudah bisa disimpulkan: berhasil baik. Karena itu, sistem kombong akan dikembangkan. Ria sudah membangun 15 kombong. Tidak harus di dekat danau karena sarana untuk minum sapi bisa dibangun di tengah kombong. 
 
Ke depan, Ria berencana membangun 500 kombong di lahan 6.000 ha itu. Fungsi tiap kombong akan dibedakan. Ada kombong untuk anak-anak sapi dengan umur tertentu. Satu kombong bisa dihuni 200 anak sapi. Lalu, ada kombong untuk sapi yang lebih besar yang sudah siap dihamili. Kombong seperti itu diisi 150 ekor sapi. Ditambah pejantan unggulan. Lalu, ada kombong untuk sapi besar yang hanya berisi 100 ekor.
 
Sapi-sapi yang sudah bunting dimasukkan ke kandang tertutup. Di situ disiapkan sarana untuk melahirkan yang sehat. Juga disiapkan nutrisi yang lebih baik.
 
Ke depan, pagar kombong itu tidak lagi dibuat dari kayu kering. Pagar tersebut akan berupa pagar hidup. Ria sudah membuat pembibitan pohon jabung. Saya pun dibawa ke area pembibitan. Ada 400.000 bibit pohon jabung yang disiapkan. Saya percaya saja pada angka itu. Daripada diminta menghitung sendiri.
 
Bibit-bibit pohon jabung itulah yang akan ditanam rapat membentuk pagar hidup kombong. Pohon tersebut akan berdwifungsi: untuk pelindung sapi dan untuk dijual kayunya setelah berumur lima tahun. Juga ada fungsi menghemat: daripada beli kayu untuk pagar. Pohon jabung adalah pohon yang lekas bongsor yang kini lagi sangat happening di Jawa Barat.
 
Maka, setahun lagi sudah akan kelihatan bentuknya. Lahan 6.000 ha itu akan dibentuk menjadi kombong-kombong sapi. Tiap 10 ha satu kombong. Di setiap lahan 10 ha itu ditanami rumput gajah (2 ha) dan sorgum (3 ha). Di tengah-tengah tanaman rumput dan sorgum itulah kombong untuk kandang sapi. Fungsi rumput tidak lain untuk makanan sapi. Sedang fungsi sorgum untuk makanan manusianya dengan batang dan daun untuk sapinya. 
 
Dengan demikian, akan ada blok-blok 10 ha di Buli yang tidak saja memudahkan pengawasannya, tapi juga bisa menampung lebih banyak sapi di dalamnya. Dengan metode itulah ranch di Bila bisa menampung 50.000 sapi.
 
Masyarakat sekitar peternakan akan dilibatkan. Kelompok-kelompok peternakan di sekitarnya akan diberi kesempatan memiliki kombong seperti itu. Sapinya milik masyarakat dengan modal dari PKBL BUMN. Wakil bupati Sidrap yang ikut hadir hari itu akan mengajak warganya untuk ikut cara Buli tersebut. Inilah ranch model Buli, model Berdikari, model Ria. Berbeda dengan Australia atau Jawa.
 
Setahun lagi saya berjanji bertemu Ria di Bila. Dan akan bermalam di situ. Sambil menikmati makanan Sidrap yang enak-enak. Dan mengelilingi kombong-kombong pohon hidup yang sudah jadi. 
 
Inilah roh baru PT Berdikari. Saya memang meminta Berdikari fokus menangani peternakan sapi. Tidak usah usaha macam-macam seperti di masa lalu, yang semuanya berantakan. Usaha asuransinya harus dilepas. Demikian juga usaha mebelnya. Fokus: sapi, sapi, dan sapi.
 
Negara lagi memerlukan peran BUMN seperti Berdikari. Indonesia terlalu besar mengimpor sapi. Tidak boleh Berdikari justru jadi benalu negeri. Terbukti, ketika fokus, direksinya bisa menemukan jalan yang begitu hebat dan asli. Yang akan bisa ikut mengatasi kekurangan daging sapi di dalam negeri. 
 
Terlalu besar kita impor sapi. Menghabiskan devisa dan harga diri. (*) 
 
Sumber : http://www.radarbangka.co.id/dahlaniskan/detail/19/manufacturing-hope-62-dari-buli-ria-berdikari-ingin-angkat-harga-diri.html

Bos Kompas Puji Dahlan Iskan Kreatif

Bos Kompas Puji Dahlan Iskan KreatifBos Kompas Puji Dahlan Iskan Kreatif
 
 
Presiden Komisaris Kelompok Kompas Gramedia, Jakob Oetama menilai sosok Dahlan Iskan sebagai anak muda yang kreatif dan tidak mengenal lelah. Makanya menurut dia, Dahlan dipercaya sebagai Menteri BUMN di Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) II oleh Presiden Susilo Bambang Yudhyono (SBY).  "Jarang sekali anak muda yang kreatif  tidak mengenal lelah dan akhirnya sampai dipercaya membantu Presiden untuk posisi menteri. Tentu sesuatu yang membanggakan, kita bersyukur sebagai sesama rekan wartawan," kata Jakob pada Peresmian Kompas Gramedia Fair dan Peluncuran Buku karya Dahlan Iskan di Istora Senayan, Jakarta, Rabu (29/2).
   
Jakob mengatakan Dahlan punya pandangan jauh melihat sebuah peristiwa. Menurutnya, hal itu terlihat dari tulisan-tulisannya. Ia mencontohkan dalam buku Dahlan yang berjudul Ganti Hati.  "Memang persaoalan medis, penyembuhan penyakit. Tetapi sepintas melihat bahwa tidak hanya melihat dari sisi penyembuhan, tapi ada sesuatu pembaruan, penegasan dan panggilan hidup. Sesuatu peristiwa yang dilihat, ada dimensi iman. Iman kita masing-masing," katanya.
   
Sementara, Mantan Wakil Presiden, Jusuf Kalla yang juga hadir, mengaku sebagai orang yang sempat meragukan kepemimpinan Dahlan Iskan saat ditunjuk sebagai Direktur Utama (Dirut) PLN. Pasalnya, perusahaan plat merah itu membutuhkan pengetahuan yang tekhnis. "Banyak yang meragukan Pak Dahlan di PLN. Saya juga termasuk orang yang meragukan karena memimpin perusahaan yang teknis," kata pria yang akrab disapa JK ini.
   
Namun keraguan itu dijawab Dahlan dengan membuat gebrakan di PLN. Salah satunya adalah tidak ada lagi pemadaman lampu secara bergiliran di seluruh Indonesia. "Tapi pengalaman kita di mana-mana, masalah CEO (Chief Executive Office) itu adalah masalah commonsense (bisnis yang tindakannya didasarkan pada akal sehat), bukan soal tekhnis.  Yang urus teknis ada direktur. Yang dipake Pak Dahlan adalah commonsense, yang logis saja," katanya.
   
Mantan Ketua Umum Partai Golkar ini menjelaskan keberhasilan Dahlan dalam memimpin PLN karena mampu memperpendek proses birokrasi dengan berorientasi pada hasil buka pada proses. "Dahlan mampu merubah result oriented. Sama seperti saya, proses nomor dua, asal jangan juga melanggar aturan, karena kalau salah juga bahaya. Kalau murni birokrasi ya susah. Apa yang dibuat ia memperpendek proses dengan result oriented tapi tidak salah (melanggar aturan)," katanya.
   
Peluncuran buku karya Dahlan Iskan terdiri dari tiga judul. Yakni, Dua Tangis dan Ribuan Tawa, Ganti Hati: Tantangan Menjadi Menteri Karya dan Tidak Ada yang Tidak Bisa. Selain Dahlan Iskan, acara ini juga mantan Wakil Presiden, M Jusuf Kalla, Komisaris PT Bank Central Asia Raden Pardede. Dahlan sendiri mengaku deg-degan menjelang 6 Agustus 2012 karena pada tanggal tersebut genap 5 tahun menjalani masa cangkok hati. "Lima tahun merupakan masa kritis. Jika kurun waktu tersebut terlewati maka Insya Allah saya selamat," katanya.
      
Dahlan mengaku saat sakit, dia sudah menghitung hari. Pasalnya, dia pernah memberi pertolongan kepada seorang kenalan untuk menjalani operasi di salah satu rumah sakit di Singapura. "Saya memberi jaminan kepada pihak rumah sakit untuk operasi tersebut. Operasi berlangsung lancar, namun tidak lama kenalan saya itu akhirnya meninggal dunia," ujarnya.  Dahlan memberikan gambaran bahwa transpalantasi hati bagi seseorang hanya sebuah jalan, namun tetap takdir yang menentukan. "Untuk itu saya bersyukur mendapatkan berkah dan bisa bertahan hingga saat ini," ujarnya.
   
Menurut pria kelahiran Magetan 17 Agustus 1951 ini, kunci dirinya bisa bertahan adalah disiplin. "Saya disiplin karena taruhannya mati. Sesuatu yang taruhannya mati akan membuat seseorang tingkat disiplinnya meningkat," ujarnya. Pada kesempatan itu, Dahlan juga membuka rahasia bisa bertahan, yaitu tetap bekerja keras, berolahraga dan tidak lupa minum obat."Obat yang saya konsumsi tiga kali sehari bukanlah untuk menyembuhkan, tetapi hanya alat untuk mempertahankan agar hati yang dicangkok tetap terkoneksi dengan tubuh saya," ujarnya.
   
Ia bersoloroh, ibarat komputer, obat itu hanya semacam konektor dari komputer Apple ke Microsoft. "Jika ada penolakan, maka bisa saja sewaktu-waktu terjadi diskoneksi. Ini yang harus tetap dijaga dengan konsumsi obat yang dosisnya makin lama sudah semakin kecil," ujarnya.  Seperti diberitakan kemarin, Lembaga Charta Politika  memberikan penghargaan berupa award kepada Dahlan Iskan sebagai Menteri Berpengaruh 2011. Dahlan menerima penghargaan bersama 4 tokoh lainnya, Saan Mustopa (politisi koalisi pemerintah) Akbar Faizal tokoh (oposisi), Febri Diansyah (aktivis/pengamat), Walikota Solo Joko Widodo (politisi kepala daerah) dan politisi senior Golkar Akbar Tanjung (lifetime achievement).   
   
Dahlan Iskan mendapat penghargaan dari Charta Politika Award III dalam kategori sebagai pimpinan kementerian paling berpengaruh selama tahun 2011. Ia mendapat penghargaan ini karena dari hasil media tracking Charta Politika, menunjukkan, Dahlan selalu mendapat pemberitaan yang positif dalam kariernya di dunia pemerintahan. Sebanyak 65 persen pemberitaan di media tentangnya bernilai positif, sementara sisanya 35 persen bersifat netral.
   
Lembaga yang pernah dipimpin Arya Bima Sugiarto ini memberi bobot berdasarkan pemberitaan di media dengan penelitian sejak 20 Februari 2011 hingga 20 Februari 2012. Meski mendapat penghargaan, Dahlan berada dalam posisi urutan keempat secara grafis, dalam nominator kategori kementerian berpengaruh di media tahun 2011.
   
Dahlan tercatat memberikan 360 kali pernyataan selama di media, sehingga cukup dikenal masyarakat. Menurut dia, Dahlan Iskan dinilai sebagai sosok yang tak suka sistem birokrasi yang bertele-tele. Hal ini karena ia berlatar belakang pengusaha dan pedagang yang profesional dan cepat tanggap dalam menyelesaikan masalah. "Gaya beliau yang tak resmi dan santai jadi ciri khas kepemimpinan Dahlan Iskan. Apalagi ia sempat menjadi buah bibir karena mendatangi rapat kerja pemerintah di Istana Bogor dengan menggunakan kereta Commuter Line dan ojek," ujar Yunarto. (aga/dim/c5/ttg/awa)

Sumber : http://www.radarbangka.co.id/berita/detail/global/5997/bos-kompas-puji-dahlan-iskan-kreatif.html

Dialog Trotoar Dahlan Iskan dengan Demonstran

Dialog Trotoar Dahlan Iskan dengan DemonstranDialog Trotoar Dahlan Iskan dengan Demonstran
 
Oleh Hazairin Sitepu
 
’’Saya Dahlan...’’

"Anda demo ya?" tanya Dahlan Iskan.
"Iya Pak, kami lagi demo,"  jawab beberapa mahasiswa.
"Demo soal apa?" tanya Dahlan lagi.
"Demo Pilkada, Pak," jawab mereka.

"Pilkada di mana?," Dahlan melanjutkan pertanyaan.
"Pemilihan gubernur DKI, Pak," jawab Dadan Gundara, salah satu demonstran.
"Mengapa Anda demo Pilkada DKI?" Dahlan terus bertanya.

"Supaya gubernur DKI yang akan datang lebih bagus Pak," jawab mahasiswa Politeknik Negeri Jakarta yang tergabung dalam BEM Jakarta Raya itu.
"Bagus..bagus," kata Dahlan.
"Ini Pak Dahlan ya. Benar ini Pak Dahlan Iskan ya?" tanya Dadan.

"Iya, saya Dahlan. Kenapa?" Jawab Dahlan.
"Alhamdulillah, saya bisa bertemu langsung dengan  Bapak. Selama ini saya hanya baca di online. Kita sering mendiskusikan berita tentang Bapak," kata mahasiswa  asal Padalarang, Bandung Barat, tersebut.

"Bapak baru habis olahraga ya?" tanya Dadan.
"Tidak, saya baru habis kasih kuliah di situ," kata Dahlan sambil menunjuk kantor Lembaga Pertahanan Nasional.  "Di Lemhannas," Dahlan menambahkan.

"Kok, pake sepatu kets, Pak?" Dadan menimpali. "Jadi berita-berita Pak Dahlan pake sepatu kets itu benar donk," ia melanjutkan pertanyannya.
"Demonya sudah selesai?" Dahlan memotong pertanyaan soal sepatu kets..
"Sekarang istirahat dulu Pak,  mau salat dhuhur. Boleh pinjam tempat salat di sini, Pak," kata Dadan kepada Dahlan.

"Shalat di kantor saya saja. Ayo," jawab Dahlan sambil berjalan agak cepat ke arah kantornya yang jaraknya sekitar 200 meter dari tempat mereka berdialog.
"Kantor Bapak di mana" Jauh tidak dari sini," tanya Dadan.

"Itu, dekat," kata Dahlan sambil menunjuk kantor Kementerian BUMN.
"Anda makan dulu yah baru shalat. Biar teriakannya kencang. Kita makan sama-sama di kantin," kata Dahlan.
"Kita sudah makan, Pak. Terima kasih," kata Dadan.

"Benar sudah makan," kata Dahlan lagi.
"Sudah Pak. Kita semua sudah makan," jawab Dadan.
"Teriakan kami kencang, Pak. Kalau tidak percaya boleh dicoba Pak," timpal Yusuf Fauzi, salah satu demonstran dari BEM Universitas Negeri Jakarta (UNJ).

"Kalau begitu kita shalat saja ya. Mau di musalah  atau di ruangan saya. Mana teman-temanmu yang lain?" kata Dahlan sambil berhenti sejenak.
"Sebentar Pak, saya panggil mereka," kata Dadan, lalu berjalan ke arah teman-temannya yang masih bertahan di depan kantor gubernur DKI. Dahlan menunggu di depan kantor Kementerian BUMN.

"Mereka shalat di sana, Pak," katanya setelah kembali.
"Ayo, shalat di ruangan saya saja," kata Dahlan sambil berjalan menuju lobi kantornya.

Dua mahasiswa demonstran itu pun masuk ke lift bersama Dahlan, ke lantai 19. Dahlan mengajak keduanya  ke ruang kerjanya. "Ini kamar mandi, Anda wudhu di situ," kata Dahlan kepada keduanya.

Ketika Dadan dan Fauzi sedang berwudhu, Dahlan menyiapkan dan menggelar sejadah di sisi selatan ruang kerjanya.

Setelah dua mahasiswa tersebut keluar dari kamar mandi,  gantian Dahlan yang masuk untuk berwudhu. Sehabis wudhu, Dahlan langsung qomat dan mempersilakan Dadan menjadi imam.

Usai shalat, Dadan dan Fauzi  turun bersama Dahlan ke lobi kantor. Keduanya kemudian kembali menemui teman-temannya di depan kantor gubernur DKI dan Dahlan menuju Hotel Borobudur untuk ceramah di depan ratusan direktur utama  perusahaan Badan Usaha Milik Daerah.

Itulah dialog antara Dahlan Iskan dengan dua demonstran Kamis lalu. Mereka bertemu secara kebetulan di trotoar depan Kantor Gubernur DKI di Merdeka Selatan. Waktu itu Dahlan Iskan baru saja selesai memberi kuliah kepada mahasiswa Lemhannas dan hendak menuju kantornya di Kementerian BUMN dengan jalan kaki. Sementara Dadan dan teman-temannya (tampak sekitar 20 orang) sedang berdemo di depan Kantor Gubernur DKI.

Dahlan memang sering jalan kaki kalau hendak dan dari kantor-kantor di sekitar Merdeka Selatan. Kalau ke Istana Wapres ia beberapa kali jalan kaki pergi-pulang. Begitu pula ke kantor Kementerian ESDM. Dalam lift Dadan, yang cerewet itu, juga bertanya tentang rencana pemerintah menaikkan tarif BBM. Dahlan yang wartawan, menjawab dengan sangat tangkas. "Presiden pasti memikirkan yang terbaik untuk rakyat," begitu salah satu jawaban Dahlan atas pertanyaan Dadan.

Hal yang paling penting dari bertemunya Dahlan Iskan dengan mahasiswa demonstran ini adalah sikapnya dia melayani dialog mahasiswa demonstran itu. Juga sikap Dadan dan Fauzi yang begitu berbudaya  bertutur sapa dengan Dahlan yang seorang menteri.

Kedua mahasiswa tersebut malah salut dengan Dahlan yang mau melayani mereka sepenuh hati. Saya memang sempat khawatir akan terjadi caci-maki atau keluar kata-kata tidak sopan para demonstran itu kepada pemerintah. Sebab mereka sedang berhadapan dengan seorang menteri, di arena demonstrasi pula.

Sebaliknya , mereka begitu sopan bertutur sapa, dan Dahlan pun melayani sepenuh hati. Dialognya begitu cair, saling menghargai, dan Dahlan pun memposisikan para demonstran itu sejajar dengannya pada saat terjadi dialog. Mereka bahkan memuji Dahlan yang meskipun sudah menjadi menteri tetap bersikap apa adanya. (*)
 
Sumber : http://www.radarbangka.co.id/berita/detail/global/6295/dialog-trotoar-dahlan-iskan-dengan-demonstran.html 

Senin, 31 Desember 2012

DAHLAN ISKAN BICARA SOAL TERNAK SAPI INDONESIA

DAHLAN ISKAN BICARA SOAL TERNAK SAPI INDONESIA


Gebrakan Dahlan Iskan tidak hanya berhenti di sektor energi Listrik, polemik Impor Gula dan Jalan Tol, tetapi ternyata merangsek masuk juga di sektor peternakan. Ketika berkunjung di Yogyakarta menjadi pembicara pada sebuah seminar “Pemimpin Muda Belajar Merawat Indonesia” yang diselenggarakan oleh Fakultas Hukum UGM Yogyakarta, 29 Maret 2012, sedikit menyinggung masalah pembangunan sektor pertanian termasuk subsektor peternakan.
 
Meski hanya sekilas namun nampaknya menteri yang penuh dengan kejutan dan gebrakan ini, begitu memahami benar akan basis kuat Negara Indonesia adalah harus bertumpu pada bidang agraris. Ia mencontohkan di negeri Cina yang dikenal dengan pertumbuhan ekonominya tertinggi di dunia, bahwa petani begitu diperhatikan kesejahteraannya. Meskipun lahan pertanian yang digarap oleh petani di Cina hanya merupakan pinjaman dari Negara, dan petani hanya sebagai penggarap, namun toh jauh dari sejahtera di banding dengan petani Indonesia.
 
Indonesia memang tidak menganut paham sosialisme yang menguasai tanah dan hasil tambang oleh Negara, namun jika menilik dan merujuk kepada pasal 33 UUD 1945 (Amandemen) bahwa semang­at untuk mensejahterakan warga Negara juga nyaris mirip sekali. Pada pokok substansinya amanat Konstitusi Indonesia, bahwa tanah dan hasil bumi yang berada di dalamnya di kelola oleh Negara untuk sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat.
 
Berbicara tentang basis kuat dan tumpuan pembangunan Indonesia, yang seharusnya dipilih menurut mantan pimpinan perusahaan raksasa media Jawapos Grup ini, tiada lain memang bidang pertanian. Untuk itu, Dahlan merasa sangat heran sekali kenapa Indonesia harus impor daging dan ternak sapi, jika potensi dan sumber daya alam yang ada sebenarnya mampu dioptimalkan.
 
Ia pertama menggebrak perusahaan bibit padi PT Sang Hyang Sri untuk meningkatkan produksi bibit dan kualitasnya. Kemudian dilanjutkan dengan merevitalisasi PT Berdikari. Seperti kita ketahui, bahwa perusahaan itu didirikan sebenarnya untuk mengembangkan peternakan sapi di Indonesia. Namun justru kini lebih banyak bergerak di usaha me­bel dan pariwisata. Akhirnya ujar Dahlan di depan peserta seminar, ia perintahkan menutup usaha yang tidak terkait dengan misi dan tujuan didirikannya Perusahaan itu, dan kini kembali beralih ke sektor peternakan sapi.
 
Menurut Dahlan, sangat tidak masuk akal jika keluhan ketersediaan pakan untuk ternak sapi di Indonesia tidak mencukupi. Sebab perusahaan perkebunan Negara yaitu PTP misalnya, banyak tersedia lahan kosong yang infrastrukturnya sudah tersedia dengan baik. Akan tetapi lahan sela yang kosong itu tidak dimanfaatkan, bahkan limbah perkebunan sawit, kopi, teh dan nanas, serta cengkeh belum dimanfaatkan  secara optimal.
 
Maka PT Berdikari kini menurut Dahlan, harus fokus dan serius menggarap usaha peternakan sapi. Untuk tahun 2012 ini Dahlan menugaskan kepada PT Berdikari agar mampu memasok 100.000 ekor sapi bagi kepentingan domestik. Impor daging dan ternak sapi harus segera di akhiri, jelas Dahlan. Kemudian tahun 2013 mendatang menurutnya target nya 250.000 ekor sapi.
 
Menurut Dahlan, keluhan tiadanya infrastruktur bagi pengembangan ternak sapi di kawasan PTP pada saat ini sudah tidak pantas dikeluhkan oleh para investor plat merah maupun swasta, khususnya BUMN yang bertugas di sektor pertanian.
Dahlan menjelaskan bahwa kawasan perkebunan yang dikelola oleh Negara (misalnya PTP) umumnya adalah peninggalan kolonial Belanda dan sebagian kecil hasil pembangunan bangsa Indonesia pasca merdeka, merupakan kawasan yang sudah sangat mapan kesediaan infrastrukturnya. Mulai dari jalan raya yang relatif panjang dan memadai menuju kota pelabuhan, jaringan irigasi yang tersedia sudah tertata representatif serta tersedianya pasokan energi listrik yang mandiri. Selain itu sebagai kota satelit, kawasan perkebunan selalu melimpah tersedia tenaga kerja yang handal dan juga tersedianya lahan maupun limbah perkebunan untuk ternak sapi.
 
Hanya sayangnya memang paparan sepintas namun cukup mendalam itu, tidak mendapat tanggapan dari peserta yang sebagian besar adalah civitas akademika fakultas hukum. Maka menjadi menarik jika ASOHI, GOPAN atau ISPI maupun PDHI mengagendakan sebuah pertemuan khusus yang membahas masalah pembangunan peternakan dengan menteri yang memang konsern terhadap potensi domestik. Alangkah kecewanya jika kemauan mulia dan ide Dahlan ini tidak mendapat sambutan dari para pelaku usaha peternakan dalam negeri.
 
Momentum menarik ini memang harus segera direspon oleh organisasi profesi peternakan dan para pelaku usahanya. Kita patut menunggu siapa yang lebih dahulu memulai ! Apakah ASOHI memulai lebih dahulu? Atau malah ISPI dan PPSKI? (iyo)


Sumber : http://peternakanwahyuutama.blogspot.com/2012/09/dahlan-iskan-bicara-soal-ternak-sapi.html